Pengumuman! Cek Eligibilitas Magang Nasional Batch 3 Tahun 2026 Sudah Dibuka. Segera cek status kelayakan Anda melalui akun Maganghub.

Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Memberikan perawatan langsung kepada pasien, memantau kondisi dan membantu melaksanakan prosedur medis, edukasi kesehatan, memberikan dukungan emosional. Berkoordinasi dengan tim medis lainnya untuk memastikan perawatan yang komprehensif melaksanakan tugas kolaboratif, melakukan dan mendokumentasikan tindakan keperawatan yang telah dilakukan beserta respons pasien ke dalam rekam medis atau SIMRS secara akurat dan legal.
Service Excellent (Pelayanan Prima) merupakan suatu konsep pelayanan yang berorientasi pada pemberian pengalaman terbaik kepada pelanggan melalui pelayanan yang cepat, tepat, ramah, profesional, aman, dan berkualitas. Dalam pelayanan kesehatan, Service Excellent menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seluruh tenaga kesehatan dan tenaga pendukung untuk mewujudkan kepuasan pasien, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mendukung mutu pelayanan rumah sakit.
pemasangan infus bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemasangan akses intravena perifer secara aman, tepat, dan sesuai standar operasional prosedur (SPO). Materi meliputi indikasi dan kontraindikasi pemasangan infus, pemilihan vena dan ukuran kateter, persiapan alat dan pasien, teknik aseptik, prosedur pemasangan, fiksasi kateter, pengaturan terapi cairan, pemantauan selama terapi, pencegahan serta penatalaksanaan komplikasi (seperti infiltrasi, flebitis, ekstravasasi, dan infeksi), pendokumentasian tindakan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peserta mampu melakukan pemasangan infus secara profesional, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi Code Blue Sekunder bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam merespons kondisi henti jantung dan henti napas pada pasien secara cepat, tepat, dan terkoordinasi sesuai dengan sistem tanggap darurat rumah sakit. Materi meliputi konsep dan alur aktivasi Code Blue, pengenalan tanda-tanda henti jantung, penilaian awal pasien, pelaksanaan Bantuan Hidup Dasar (BHD), penggunaan Automated External Defibrillator (AED) atau defibrilator sesuai kewenangan, peran dan tanggung jawab anggota tim Code Blue Sekunder, komunikasi efektif menggunakan metode SBAR, koordinasi dengan Tim Code Blue Primer, penatalaksanaan pasca-resusitasi, keselamatan petugas, serta pendokumentasian kejadian dan evaluasi respons Code Blue. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, simulasi skenario (drill), praktik keterampilan, dan evaluasi kompetensi sehingga peserta mampu memberikan respons kegawatdaruratan yang cepat, efektif, dan terintegrasi dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.
Terapi oksigen merupakan salah satu intervensi medis yang bertujuan untuk memperbaiki oksigenasi jaringan pada pasien yang mengalami hipoksemia atau berisiko mengalami gangguan oksigenasi. Pemberian terapi oksigen harus dilakukan berdasarkan indikasi klinis, pemantauan yang berkesinambungan, serta evaluasi respons pasien agar terapi yang diberikan efektif, aman, dan sesuai dengan kebutuhan individu. Monitoring respirasi yang tepat menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini perubahan kondisi pasien sehingga dapat dilakukan intervensi secara cepat dan akurat.
Materi Budaya Keselamatan (Safety Culture) di Rumah Sakit bertujuan untuk membentuk sikap, pengetahuan, dan kompetensi peserta dalam menerapkan budaya keselamatan sebagai fondasi utama penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, efektif, berpusat pada pasien, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. Materi ini memberikan pemahaman bahwa keselamatan pasien merupakan tanggung jawab seluruh tenaga kesehatan dan harus menjadi bagian dari budaya kerja di setiap unit pelayanan.
Materi Manajemen Risiko Klinis dalam Pelayanan Keperawatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi peserta dalam mengidentifikasi, menganalisis, mengendalikan, serta meminimalkan risiko klinis yang dapat memengaruhi keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan. Materi meliputi konsep dasar manajemen risiko klinis, identifikasi potensi risiko dalam setiap tahapan asuhan keperawatan, penerapan budaya keselamatan pasien (patient safety culture), penggunaan metode analisis risiko, implementasi strategi mitigasi risiko, pelaporan dan pembelajaran dari insiden keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera/KNC, Kejadian Tidak Cedera/KTC, Kejadian Tidak Diharapkan/KTD, dan Sentinel), analisis akar penyebab (Root Cause Analysis/RCA), penyusunan rencana tindak lanjut perbaikan, penerapan manajemen risiko dalam praktik keperawatan berbasis bukti, komunikasi efektif antarprofesi, serta pendokumentasian dan monitoring evaluasi risiko sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi analisis insiden, dan praktik penyusunan rencana mitigasi risiko sehingga peserta mampu menerapkan manajemen risiko klinis secara sistematis, proaktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan pasien serta mutu pelayanan keperawatan.Materi Manajemen Risiko Klinis dalam Pelayanan Keperawatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi peserta dalam mengidentifikasi, menganalisis, mengendalikan, serta meminimalkan risiko klinis yang dapat memengaruhi keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan. Materi meliputi konsep dasar manajemen risiko klinis, identifikasi potensi risiko dalam setiap tahapan asuhan keperawatan, penerapan budaya keselamatan pasien (patient safety culture), penggunaan metode analisis risiko, implementasi strategi mitigasi risiko, pelaporan dan pembelajaran dari insiden keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera/KNC, Kejadian Tidak Cedera/KTC, Kejadian Tidak Diharapkan/KTD, dan Sentinel), analisis akar penyebab (Root Cause Analysis/RCA), penyusunan rencana tindak lanjut perbaikan, penerapan manajemen risiko dalam praktik keperawatan berbasis bukti, komunikasi efektif antarprofesi, serta pendokumentasian dan monitoring evaluasi risiko sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi analisis insiden, dan praktik penyusunan rencana mitigasi risiko sehingga peserta mampu menerapkan manajemen risiko klinis secara sistematis, proaktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan pasien serta mutu pelayanan keperawatan.
Service Excellent (Pelayanan Prima) merupakan suatu konsep pelayanan yang berorientasi pada pemberian pengalaman terbaik kepada pelanggan melalui pelayanan yang cepat, tepat, ramah, profesional, aman, dan berkualitas. Dalam pelayanan kesehatan, Service Excellent menjadi salah satu kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seluruh tenaga kesehatan dan tenaga pendukung untuk mewujudkan kepuasan pasien, meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta mendukung mutu pelayanan rumah sakit.
Komunikasi Efektif merupakan kemampuan menyampaikan dan menerima informasi secara jelas, akurat, lengkap, tepat waktu, serta dapat dipahami oleh semua pihak sehingga mengurangi risiko kesalahan komunikasi. Dalam pelayanan kesehatan, komunikasi efektif menjadi salah satu kompetensi inti yang berperan penting dalam menjamin keselamatan pasien (patient safety), meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat kerja sama antarprofesi, serta membangun hubungan yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien dan keluarganya.
Komunikasi Efektif merupakan kemampuan menyampaikan dan menerima informasi secara jelas, akurat, lengkap, tepat waktu, serta dapat dipahami oleh semua pihak sehingga mengurangi risiko kesalahan komunikasi. Dalam pelayanan kesehatan, komunikasi efektif menjadi salah satu kompetensi inti yang berperan penting dalam menjamin keselamatan pasien (patient safety), meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat kerja sama antarprofesi, serta membangun hubungan yang baik antara tenaga kesehatan dengan pasien dan keluarganya.
Etik dan Mutu Profesi merupakan landasan utama dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang profesional, aman, bermutu, dan berorientasi pada pasien. Setiap tenaga kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menjalankan praktik profesinya sesuai dengan kode etik, standar profesi, standar pelayanan, serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Selain itu, tenaga kesehatan juga dituntut untuk berperan aktif dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dan budaya keselamatan pasien secara berkesinambungan.
Dokumentasi keperawatan merupakan bagian integral dari proses asuhan keperawatan yang berfungsi sebagai bukti pelaksanaan pelayanan, media komunikasi antarprofesi, dasar evaluasi mutu pelayanan, serta dokumen hukum yang mencerminkan tanggung jawab dan akuntabilitas profesional perawat. Dokumentasi yang lengkap, akurat, objektif, sistematis, dan tepat waktu berperan penting dalam menjamin kesinambungan pelayanan, meningkatkan keselamatan pasien, serta mendukung pemenuhan standar akreditasi rumah sakit.
Dokumentasi keperawatan merupakan bagian integral dari proses asuhan keperawatan yang berfungsi sebagai bukti pelaksanaan pelayanan, media komunikasi antarprofesi, dasar evaluasi mutu pelayanan, serta dokumen hukum yang mencerminkan tanggung jawab dan akuntabilitas profesional perawat. Dokumentasi yang lengkap, akurat, objektif, sistematis, dan tepat waktu berperan penting dalam menjamin kesinambungan pelayanan, meningkatkan keselamatan pasien, serta mendukung pemenuhan standar akreditasi rumah sakit.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan serangkaian tindakan pertolongan pertama yang dilakukan secara cepat, tepat, dan sistematis pada seseorang yang mengalami henti napas dan/atau henti jantung untuk mempertahankan fungsi sirkulasi dan oksigenasi hingga bantuan lanjutan tersedia. Penguasaan keterampilan BHD oleh seluruh tenaga kesehatan merupakan kompetensi dasar yang sangat penting dalam upaya meningkatkan angka keberhasilan resusitasi, menurunkan angka kematian, serta mendukung budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan serangkaian tindakan pertolongan pertama yang dilakukan secara cepat, tepat, dan sistematis pada seseorang yang mengalami henti napas dan/atau henti jantung untuk mempertahankan fungsi sirkulasi dan oksigenasi hingga bantuan lanjutan tersedia. Penguasaan keterampilan BHD oleh seluruh tenaga kesehatan merupakan kompetensi dasar yang sangat penting dalam upaya meningkatkan angka keberhasilan resusitasi, menurunkan angka kematian, serta mendukung budaya keselamatan pasien di rumah sakit.
Early Warning Scoring System (EWSS) merupakan sistem penilaian klinis yang digunakan untuk mendeteksi secara dini terjadinya perburukan kondisi pasien melalui pemantauan parameter fisiologis secara terstruktur. Penerapan EWSS membantu tenaga kesehatan mengenali tanda-tanda penurunan kondisi pasien lebih awal sehingga intervensi medis dan keperawatan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi untuk mencegah kejadian yang tidak diharapkan, seperti henti jantung, kegagalan organ, maupun kematian.
Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) merupakan standar dasar yang harus diterapkan oleh seluruh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada pasien. Penerapan SKP bertujuan untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien, mengurangi risiko cedera akibat kesalahan pelayanan, serta membangun budaya keselamatan (patient safety culture) di rumah sakit.
Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) merupakan standar dasar yang harus diterapkan oleh seluruh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan yang aman, bermutu, dan berorientasi pada pasien. Penerapan SKP bertujuan untuk mencegah terjadinya insiden keselamatan pasien, mengurangi risiko cedera akibat kesalahan pelayanan, serta membangun budaya keselamatan (patient safety culture) di rumah sakit.
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) merupakan salah satu program prioritas dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bertujuan melindungi pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, dan lingkungan rumah sakit dari risiko penularan infeksi. Implementasi PPI yang konsisten merupakan bagian penting dalam meningkatkan mutu pelayanan, menjamin keselamatan pasien, serta memenuhi standar akreditasi rumah sakit.
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) merupakan salah satu program prioritas dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang bertujuan melindungi pasien, tenaga kesehatan, pengunjung, dan lingkungan rumah sakit dari risiko penularan infeksi. Implementasi PPI yang konsisten merupakan bagian penting dalam meningkatkan mutu pelayanan, menjamin keselamatan pasien, serta memenuhi standar akreditasi rumah sakit.
Pelatihan 5 Dasar merupakan serangkaian program pembekalan kompetensi diwajibkan bagi seluruh pegawai, civitas hospitalia, atau mahasiswa di lingkungan fasilitas kesehatan. Program ini dirancang untuk memastikan keselamatan pasien, kesiapsiagaan darurat, dan pemenuhan standar akreditasi rumah sakit
elatihan 5 Dasar merupakan serangkaian program pembekalan kompetensi diwajibkan bagi seluruh pegawai, civitas hospitalia, atau mahasiswa di lingkungan fasilitas kesehatan. Program ini dirancang untuk memastikan keselamatan pasien, kesiapsiagaan darurat, dan pemenuhan standar akreditasi rumah sakit
pemasangan infus bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemasangan akses intravena perifer secara aman, tepat, dan sesuai standar operasional prosedur (SPO). Materi meliputi indikasi dan kontraindikasi pemasangan infus, pemilihan vena dan ukuran kateter, persiapan alat dan pasien, teknik aseptik, prosedur pemasangan, fiksasi kateter, pengaturan terapi cairan, pemantauan selama terapi, pencegahan serta penatalaksanaan komplikasi (seperti infiltrasi, flebitis, ekstravasasi, dan infeksi), pendokumentasian tindakan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peserta mampu melakukan pemasangan infus secara profesional, aman, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi perawatan luka bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan asesmen, perawatan, dan evaluasi luka secara komprehensif sesuai dengan prinsip evidence-based practice dan keselamatan pasien. Materi meliputi proses penyembuhan luka, klasifikasi dan karakteristik luka, asesmen luka menggunakan instrumen yang sesuai, prinsip pencegahan infeksi, teknik pembersihan luka, pemilihan balutan (wound dressing) berdasarkan kondisi luka, teknik perawatan luka aseptik, identifikasi dan penatalaksanaan komplikasi luka, edukasi kepada pasien dan keluarga, serta pendokumentasian tindakan keperawatan. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, diskusi kasus, dan praktik keterampilan (skill station) sehingga peserta mampu memberikan perawatan luka yang aman, efektif, dan berorientasi pada percepatan proses penyembuhan serta peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
Materi perawatan luka bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan asesmen, perawatan, dan evaluasi luka secara komprehensif sesuai dengan prinsip evidence-based practice dan keselamatan pasien. Materi meliputi proses penyembuhan luka, klasifikasi dan karakteristik luka, asesmen luka menggunakan instrumen yang sesuai, prinsip pencegahan infeksi, teknik pembersihan luka, pemilihan balutan (wound dressing) berdasarkan kondisi luka, teknik perawatan luka aseptik, identifikasi dan penatalaksanaan komplikasi luka, edukasi kepada pasien dan keluarga, serta pendokumentasian tindakan keperawatan. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, diskusi kasus, dan praktik keterampilan (skill station) sehingga peserta mampu memberikan perawatan luka yang aman, efektif, dan berorientasi pada percepatan proses penyembuhan serta peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
Materi pemasangan kateter urin (DC/Foley Catheter) bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemasangan kateter urin secara aman, tepat, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) serta prinsip pencegahan infeksi. Materi meliputi indikasi dan kontraindikasi pemasangan kateter, anatomi dan fisiologi sistem perkemihan, pemilihan jenis dan ukuran kateter, persiapan alat dan pasien, teknik pemasangan secara aseptik pada pasien laki-laki dan perempuan, fiksasi kateter, perawatan kateter urin, pemantauan fungsi drainase urin, identifikasi dan penatalaksanaan komplikasi seperti infeksi saluran kemih terkait kateter (CAUTI), trauma uretra, obstruksi, dan kebocoran kateter, serta pendokumentasian tindakan dan edukasi kepada pasien serta keluarga. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peserta mampu melakukan pemasangan kateter urin secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi pemasangan kateter urin (DC/Foley Catheter) bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemasangan kateter urin secara aman, tepat, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) serta prinsip pencegahan infeksi. Materi meliputi indikasi dan kontraindikasi pemasangan kateter, anatomi dan fisiologi sistem perkemihan, pemilihan jenis dan ukuran kateter, persiapan alat dan pasien, teknik pemasangan secara aseptik pada pasien laki-laki dan perempuan, fiksasi kateter, perawatan kateter urin, pemantauan fungsi drainase urin, identifikasi dan penatalaksanaan komplikasi seperti infeksi saluran kemih terkait kateter (CAUTI), trauma uretra, obstruksi, dan kebocoran kateter, serta pendokumentasian tindakan dan edukasi kepada pasien serta keluarga. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peserta mampu melakukan pemasangan kateter urin secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi pemberian obat inhalasi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam memberikan terapi inhalasi secara aman, efektif, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO). Materi meliputi konsep dasar terapi inhalasi, indikasi dan kontraindikasi, jenis-jenis alat inhalasi (nebulizer, metered-dose inhaler/MDI, dan dry powder inhaler/DPI), pemilihan metode pemberian sesuai kondisi pasien, persiapan alat dan obat, teknik pemberian obat inhalasi yang benar pada pasien dewasa maupun anak, pemantauan respons terapi, pencegahan dan penatalaksanaan efek samping, pembersihan serta perawatan alat, pendokumentasian tindakan, dan edukasi kepada pasien serta keluarga mengenai penggunaan alat inhalasi secara mandiri. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi sehingga peserta mampu memberikan terapi inhalasi secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
Materi pemberian obat inhalasi bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam memberikan terapi inhalasi secara aman, efektif, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO). Materi meliputi konsep dasar terapi inhalasi, indikasi dan kontraindikasi, jenis-jenis alat inhalasi (nebulizer, metered-dose inhaler/MDI, dan dry powder inhaler/DPI), pemilihan metode pemberian sesuai kondisi pasien, persiapan alat dan obat, teknik pemberian obat inhalasi yang benar pada pasien dewasa maupun anak, pemantauan respons terapi, pencegahan dan penatalaksanaan efek samping, pembersihan serta perawatan alat, pendokumentasian tindakan, dan edukasi kepada pasien serta keluarga mengenai penggunaan alat inhalasi secara mandiri. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi sehingga peserta mampu memberikan terapi inhalasi secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.
Materi pemberian injeksi bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemberian obat melalui rute parenteral secara aman, tepat, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) serta prinsip keselamatan pasien. Materi meliputi prinsip pemberian obat yang benar (benar pasien, obat, dosis, waktu, rute, dokumentasi, indikasi, respons, dan edukasi), farmakologi dasar obat injeksi, indikasi dan kontraindikasi, persiapan alat dan obat, teknik aseptik, teknik pemberian injeksi intradermal (ID), subkutan (SC), intramuskular (IM), dan intravena (IV), pemilihan lokasi penyuntikan, pencegahan serta penatalaksanaan komplikasi seperti reaksi alergi, hematoma, infiltrasi, ekstravasasi, dan infeksi, pengelolaan limbah medis tajam (sharp waste), pendokumentasian tindakan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peserta mampu melakukan pemberian injeksi secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi pemberian injeksi bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemberian obat melalui rute parenteral secara aman, tepat, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) serta prinsip keselamatan pasien. Materi meliputi prinsip pemberian obat yang benar (benar pasien, obat, dosis, waktu, rute, dokumentasi, indikasi, respons, dan edukasi), farmakologi dasar obat injeksi, indikasi dan kontraindikasi, persiapan alat dan obat, teknik aseptik, teknik pemberian injeksi intradermal (ID), subkutan (SC), intramuskular (IM), dan intravena (IV), pemilihan lokasi penyuntikan, pencegahan serta penatalaksanaan komplikasi seperti reaksi alergi, hematoma, infiltrasi, ekstravasasi, dan infeksi, pengelolaan limbah medis tajam (sharp waste), pendokumentasian tindakan, serta edukasi kepada pasien dan keluarga. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, praktik keterampilan (skill station), dan evaluasi kompetensi untuk memastikan peserta mampu melakukan pemberian injeksi secara profesional, aman, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Pengambilan darah vena (flebotomi) merupakan prosedur medis untuk menusuk pembuluh darah vena menggunakan jarum guna mendapatkan sampel darah yang akan digunakan dalam pemeriksaan laboratorium
Pengambilan darah vena (flebotomi) merupakan prosedur medis untuk menusuk pembuluh darah vena menggunakan jarum guna mendapatkan sampel darah yang akan digunakan dalam pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan GDS (Gula Darah Sewaktu) adalah tes darah yang dilakukan untuk mengukur kadar glukosa (gula) di dalam tubuh secara instan tanpa perlu berpuasa terlebih dahulu. Tujuan pemeriksaan skrining awal untuk mendeteksi penyakit diabetes melitus (kencing manis) atau memantau kondisi hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) dan hiperglikemia (kadar gula darah terlalu tinggi) pada situasi darurat
Pemeriksaan GDS (Gula Darah Sewaktu) adalah tes darah yang dilakukan untuk mengukur kadar glukosa (gula) di dalam tubuh secara instan tanpa perlu berpuasa terlebih dahulu. Tujuan pemeriksaan skrining awal untuk mendeteksi penyakit diabetes melitus (kencing manis) atau memantau kondisi hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah) dan hiperglikemia (kadar gula darah terlalu tinggi) pada situasi darurat
Asesmen keperawatan merupaka tahap awal proses keperawatan berupa pengumpulan data pasien secara sistematis untuk mengidentifikasi status kesehatan, masalah keperawatan, dan kebutuhan intervensi. Pada tahapan ini perawat dalam menentukan diagnosis keperawatan dan menyusun rencana asuhan yang akurat.
Asesmen keperawatan merupaka tahap awal proses keperawatan berupa pengumpulan data pasien secara sistematis untuk mengidentifikasi status kesehatan, masalah keperawatan, dan kebutuhan intervensi. Pada tahapan ini perawat dalam menentukan diagnosis keperawatan dan menyusun rencana asuhan yang akurat.
Materi Code Blue Sekunder bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam merespons kondisi henti jantung dan henti napas pada pasien secara cepat, tepat, dan terkoordinasi sesuai dengan sistem tanggap darurat rumah sakit. Materi meliputi konsep dan alur aktivasi Code Blue, pengenalan tanda-tanda henti jantung, penilaian awal pasien, pelaksanaan Bantuan Hidup Dasar (BHD), penggunaan Automated External Defibrillator (AED) atau defibrilator sesuai kewenangan, peran dan tanggung jawab anggota tim Code Blue Sekunder, komunikasi efektif menggunakan metode SBAR, koordinasi dengan Tim Code Blue Primer, penatalaksanaan pasca-resusitasi, keselamatan petugas, serta pendokumentasian kejadian dan evaluasi respons Code Blue. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, simulasi skenario (drill), praktik keterampilan, dan evaluasi kompetensi sehingga peserta mampu memberikan respons kegawatdaruratan yang cepat, efektif, dan terintegrasi dalam upaya meningkatkan keselamatan pasien.
Materi Monitoring Balance Cairan bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemantauan keseimbangan cairan pasien secara akurat sebagai dasar pengambilan keputusan klinis. Materi meliputi konsep keseimbangan cairan dan elektrolit, fisiologi cairan tubuh, indikasi pemantauan balance cairan, identifikasi sumber pemasukan (intake) dan pengeluaran (output) cairan, teknik pencatatan dan perhitungan balance cairan harian, interpretasi hasil monitoring, identifikasi tanda dan gejala kelebihan maupun kekurangan cairan, pemantauan pada pasien dengan kondisi khusus (seperti gagal jantung, gangguan ginjal, pasien kritis, dan pascaoperasi), pelaporan perubahan kondisi pasien kepada tim medis, serta pendokumentasian hasil monitoring sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, latihan perhitungan, dan praktik pendokumentasian sehingga peserta mampu melakukan monitoring balance cairan secara tepat, akurat, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
Materi Monitoring Balance Cairan bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pemantauan keseimbangan cairan pasien secara akurat sebagai dasar pengambilan keputusan klinis. Materi meliputi konsep keseimbangan cairan dan elektrolit, fisiologi cairan tubuh, indikasi pemantauan balance cairan, identifikasi sumber pemasukan (intake) dan pengeluaran (output) cairan, teknik pencatatan dan perhitungan balance cairan harian, interpretasi hasil monitoring, identifikasi tanda dan gejala kelebihan maupun kekurangan cairan, pemantauan pada pasien dengan kondisi khusus (seperti gagal jantung, gangguan ginjal, pasien kritis, dan pascaoperasi), pelaporan perubahan kondisi pasien kepada tim medis, serta pendokumentasian hasil monitoring sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, latihan perhitungan, dan praktik pendokumentasian sehingga peserta mampu melakukan monitoring balance cairan secara tepat, akurat, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
Materi Manajemen Airway bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan penilaian, mempertahankan, dan mengatasi gangguan jalan napas secara cepat, tepat, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) serta prinsip keselamatan pasien. Materi meliputi anatomi dan fisiologi jalan napas, asesmen patensi jalan napas, identifikasi tanda dan gejala obstruksi jalan napas, teknik pembebasan jalan napas (head tilt–chin lift dan jaw thrust), penggunaan alat bantu jalan napas seperti oropharyngeal airway (OPA) dan nasopharyngeal airway (NPA), teknik suction jalan napas, pemberian terapi oksigen, ventilasi dengan bag valve mask (BVM), serta kolaborasi dalam penanganan jalan napas definitif. Selain itu, materi mencakup pemantauan respons pasien, pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi, komunikasi efektif dalam tim, serta pendokumentasian tindakan keperawatan. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, simulasi klinis, dan praktik keterampilan (skill station) sehingga peserta mampu melakukan manajemen jalan napas secara profesional, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi Manajemen Airway bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan penilaian, mempertahankan, dan mengatasi gangguan jalan napas secara cepat, tepat, dan sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) serta prinsip keselamatan pasien. Materi meliputi anatomi dan fisiologi jalan napas, asesmen patensi jalan napas, identifikasi tanda dan gejala obstruksi jalan napas, teknik pembebasan jalan napas (head tilt–chin lift dan jaw thrust), penggunaan alat bantu jalan napas seperti oropharyngeal airway (OPA) dan nasopharyngeal airway (NPA), teknik suction jalan napas, pemberian terapi oksigen, ventilasi dengan bag valve mask (BVM), serta kolaborasi dalam penanganan jalan napas definitif. Selain itu, materi mencakup pemantauan respons pasien, pencegahan dan penatalaksanaan komplikasi, komunikasi efektif dalam tim, serta pendokumentasian tindakan keperawatan. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, simulasi klinis, dan praktik keterampilan (skill station) sehingga peserta mampu melakukan manajemen jalan napas secara profesional, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien.
Materi Manajemen Nutrisi bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pengelolaan kebutuhan nutrisi pasien secara komprehensif sebagai bagian dari asuhan keperawatan. Materi meliputi konsep dasar nutrisi klinis, asesmen status nutrisi, identifikasi risiko malnutrisi menggunakan instrumen skrining yang berlaku, perhitungan kebutuhan nutrisi dasar, pemantauan asupan makanan dan cairan, pemberian nutrisi enteral dan parenteral sesuai kewenangan perawat, pemantauan toleransi dan komplikasi terapi nutrisi, kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi dalam penyusunan rencana terapi nutrisi, edukasi kepada pasien dan keluarga, serta pendokumentasian asuhan keperawatan terkait nutrisi sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, demonstrasi, dan praktik klinis sehingga peserta mampu mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien secara aman, efektif, dan berorientasi pada peningkatan luaran klinis serta keselamatan pasien.
Materi Manajemen Nutrisi bertujuan untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan pengelolaan kebutuhan nutrisi pasien secara komprehensif sebagai bagian dari asuhan keperawatan. Materi meliputi konsep dasar nutrisi klinis, asesmen status nutrisi, identifikasi risiko malnutrisi menggunakan instrumen skrining yang berlaku, perhitungan kebutuhan nutrisi dasar, pemantauan asupan makanan dan cairan, pemberian nutrisi enteral dan parenteral sesuai kewenangan perawat, pemantauan toleransi dan komplikasi terapi nutrisi, kolaborasi dengan dokter dan ahli gizi dalam penyusunan rencana terapi nutrisi, edukasi kepada pasien dan keluarga, serta pendokumentasian asuhan keperawatan terkait nutrisi sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, demonstrasi, dan praktik klinis sehingga peserta mampu mendukung pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien secara aman, efektif, dan berorientasi pada peningkatan luaran klinis serta keselamatan pasien.
Materi Early Warning System (EWS) dan Tata Laksana Pasien Memburuk bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam melakukan deteksi dini terhadap perburukan kondisi pasien, menginterpretasikan skor EWS, serta memberikan respons klinis yang cepat, tepat, dan terkoordinasi sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) dan kebijakan rumah sakit. Materi meliputi konsep dasar Early Warning System (EWS), parameter penilaian fisiologis, teknik pengkajian dan perhitungan skor EWS, frekuensi pemantauan pasien berdasarkan tingkat risiko, identifikasi tanda dan gejala perburukan klinis, tata laksana awal sesuai kewenangan perawat, aktivasi sistem eskalasi dan Tim Respons Cepat (Rapid Response Team/Code Blue) sesuai alur yang berlaku, komunikasi efektif menggunakan metode SBAR, kolaborasi interprofesional, pendokumentasian hasil pemantauan dan tindakan, serta evaluasi respons pasien. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, simulasi klinis, dan praktik perhitungan skor EWS sehingga peserta mampu mengenali perburukan kondisi pasien secara dini, melakukan intervensi awal yang tepat, dan berkontribusi dalam meningkatkan keselamatan pasien serta menurunkan kejadian henti jantung yang dapat dicegah di rumah sakit.
Materi Early Warning System (EWS) dan Tata Laksana Pasien Memburuk bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam melakukan deteksi dini terhadap perburukan kondisi pasien, menginterpretasikan skor EWS, serta memberikan respons klinis yang cepat, tepat, dan terkoordinasi sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) dan kebijakan rumah sakit. Materi meliputi konsep dasar Early Warning System (EWS), parameter penilaian fisiologis, teknik pengkajian dan perhitungan skor EWS, frekuensi pemantauan pasien berdasarkan tingkat risiko, identifikasi tanda dan gejala perburukan klinis, tata laksana awal sesuai kewenangan perawat, aktivasi sistem eskalasi dan Tim Respons Cepat (Rapid Response Team/Code Blue) sesuai alur yang berlaku, komunikasi efektif menggunakan metode SBAR, kolaborasi interprofesional, pendokumentasian hasil pemantauan dan tindakan, serta evaluasi respons pasien. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, simulasi klinis, dan praktik perhitungan skor EWS sehingga peserta mampu mengenali perburukan kondisi pasien secara dini, melakukan intervensi awal yang tepat, dan berkontribusi dalam meningkatkan keselamatan pasien serta menurunkan kejadian henti jantung yang dapat dicegah di rumah sakit.
ateri Manajemen Nyeri Berbasis Evidence-Based Practice bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan asesmen, penatalaksanaan, dan evaluasi nyeri berdasarkan bukti ilmiah terkini serta berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan pasien. Materi meliputi konsep dasar nyeri, fisiologi dan mekanisme nyeri, klasifikasi nyeri, penggunaan instrumen asesmen nyeri sesuai kelompok usia dan kondisi pasien, penatalaksanaan nyeri secara farmakologis dan nonfarmakologis sesuai kewenangan perawat, pemantauan efektivitas terapi, identifikasi dan penanganan efek samping, kolaborasi interprofesional dalam pengelolaan nyeri, penerapan prinsip Evidence-Based Practice (EBP) dalam pengambilan keputusan klinis, edukasi kepada pasien dan keluarga, serta pendokumentasian hasil asesmen, intervensi, dan evaluasi nyeri sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, telaah literatur, diskusi kasus, simulasi klinis, dan praktik asesmen sehingga peserta mampu memberikan manajemen nyeri yang komprehensif, efektif, dan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan luaran pasien.
ateri Manajemen Nyeri Berbasis Evidence-Based Practice bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan asesmen, penatalaksanaan, dan evaluasi nyeri berdasarkan bukti ilmiah terkini serta berorientasi pada keselamatan dan kenyamanan pasien. Materi meliputi konsep dasar nyeri, fisiologi dan mekanisme nyeri, klasifikasi nyeri, penggunaan instrumen asesmen nyeri sesuai kelompok usia dan kondisi pasien, penatalaksanaan nyeri secara farmakologis dan nonfarmakologis sesuai kewenangan perawat, pemantauan efektivitas terapi, identifikasi dan penanganan efek samping, kolaborasi interprofesional dalam pengelolaan nyeri, penerapan prinsip Evidence-Based Practice (EBP) dalam pengambilan keputusan klinis, edukasi kepada pasien dan keluarga, serta pendokumentasian hasil asesmen, intervensi, dan evaluasi nyeri sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, telaah literatur, diskusi kasus, simulasi klinis, dan praktik asesmen sehingga peserta mampu memberikan manajemen nyeri yang komprehensif, efektif, dan berbasis bukti untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dan luaran pasien.
Materi Pencegahan dan Penatalaksanaan Risiko Jatuh bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengidentifikasi, menilai, mencegah, serta menangani kejadian risiko jatuh pada pasien sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) dan sasaran keselamatan pasien. Materi meliputi konsep dasar risiko jatuh, faktor risiko intrinsik dan ekstrinsik, penggunaan instrumen asesmen risiko jatuh sesuai kelompok pasien, penetapan tingkat risiko, penerapan intervensi pencegahan berdasarkan tingkat risiko, edukasi kepada pasien dan keluarga, pengelolaan lingkungan yang aman, kolaborasi interprofesional, tata laksana apabila terjadi insiden jatuh, pelaporan insiden keselamatan pasien, analisis penyebab kejadian, serta pendokumentasian asesmen, intervensi, dan evaluasi sesuai standar yang berlaku. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, simulasi, dan praktik asesmen sehingga peserta mampu menerapkan upaya pencegahan dan penatalaksanaan risiko jatuh secara sistematis, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
Materi Pencegahan dan Penatalaksanaan Risiko Jatuh bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam mengidentifikasi, menilai, mencegah, serta menangani kejadian risiko jatuh pada pasien sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) dan sasaran keselamatan pasien. Materi meliputi konsep dasar risiko jatuh, faktor risiko intrinsik dan ekstrinsik, penggunaan instrumen asesmen risiko jatuh sesuai kelompok pasien, penetapan tingkat risiko, penerapan intervensi pencegahan berdasarkan tingkat risiko, edukasi kepada pasien dan keluarga, pengelolaan lingkungan yang aman, kolaborasi interprofesional, tata laksana apabila terjadi insiden jatuh, pelaporan insiden keselamatan pasien, analisis penyebab kejadian, serta pendokumentasian asesmen, intervensi, dan evaluasi sesuai standar yang berlaku. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, simulasi, dan praktik asesmen sehingga peserta mampu menerapkan upaya pencegahan dan penatalaksanaan risiko jatuh secara sistematis, efektif, dan berorientasi pada keselamatan pasien serta peningkatan mutu pelayanan keperawatan.
Materi Pencegahan Dekubitus dan Manajemen Integritas Kulit bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan asesmen risiko, pencegahan, serta pengelolaan integritas kulit untuk mencegah terjadinya luka tekan (dekubitus) sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) dan praktik berbasis bukti (Evidence-Based Practice). Materi meliputi anatomi dan fisiologi kulit, patofisiologi luka tekan, faktor-faktor risiko terjadinya dekubitus, penggunaan instrumen asesmen risiko (misalnya Skala Braden), inspeksi dan penilaian kondisi kulit, strategi pencegahan melalui reposisi pasien, penggunaan alat bantu penurun tekanan, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi, pengendalian kelembapan kulit, edukasi kepada pasien dan keluarga, identifikasi stadium luka tekan, prinsip penatalaksanaan awal luka tekan sesuai kewenangan perawat, kolaborasi dengan tim multidisiplin, serta pendokumentasian hasil asesmen, intervensi, dan evaluasi. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, diskusi kasus, dan praktik keterampilan sehingga peserta mampu menerapkan upaya pencegahan dekubitus dan mempertahankan integritas kulit pasien secara optimal guna meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan.
Materi Pencegahan Dekubitus dan Manajemen Integritas Kulit bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam melakukan asesmen risiko, pencegahan, serta pengelolaan integritas kulit untuk mencegah terjadinya luka tekan (dekubitus) sesuai dengan standar operasional prosedur (SPO) dan praktik berbasis bukti (Evidence-Based Practice). Materi meliputi anatomi dan fisiologi kulit, patofisiologi luka tekan, faktor-faktor risiko terjadinya dekubitus, penggunaan instrumen asesmen risiko (misalnya Skala Braden), inspeksi dan penilaian kondisi kulit, strategi pencegahan melalui reposisi pasien, penggunaan alat bantu penurun tekanan, pemenuhan kebutuhan nutrisi dan hidrasi, pengendalian kelembapan kulit, edukasi kepada pasien dan keluarga, identifikasi stadium luka tekan, prinsip penatalaksanaan awal luka tekan sesuai kewenangan perawat, kolaborasi dengan tim multidisiplin, serta pendokumentasian hasil asesmen, intervensi, dan evaluasi. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, demonstrasi, diskusi kasus, dan praktik keterampilan sehingga peserta mampu menerapkan upaya pencegahan dekubitus dan mempertahankan integritas kulit pasien secara optimal guna meningkatkan keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan.
Terapi oksigen merupakan salah satu intervensi medis yang bertujuan untuk memperbaiki oksigenasi jaringan pada pasien yang mengalami hipoksemia atau berisiko mengalami gangguan oksigenasi. Pemberian terapi oksigen harus dilakukan berdasarkan indikasi klinis, pemantauan yang berkesinambungan, serta evaluasi respons pasien agar terapi yang diberikan efektif, aman, dan sesuai dengan kebutuhan individu. Monitoring respirasi yang tepat menjadi bagian penting dalam mendeteksi dini perubahan kondisi pasien sehingga dapat dilakukan intervensi secara cepat dan akurat.
Electronic Medical Record (EMR) merupakan sistem rekam medis elektronik yang digunakan untuk mendokumentasikan seluruh proses pelayanan kesehatan secara digital, terintegrasi, akurat, dan berkesinambungan. Dalam pelayanan keperawatan, EMR berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan proses asuhan keperawatan, mendukung komunikasi antarprofesi, meningkatkan efisiensi pelayanan, memperkuat keselamatan pasien, serta menyediakan data yang akurat untuk evaluasi mutu pelayanan dan pengambilan keputusan klinis.
Electronic Medical Record (EMR) merupakan sistem rekam medis elektronik yang digunakan untuk mendokumentasikan seluruh proses pelayanan kesehatan secara digital, terintegrasi, akurat, dan berkesinambungan. Dalam pelayanan keperawatan, EMR berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan proses asuhan keperawatan, mendukung komunikasi antarprofesi, meningkatkan efisiensi pelayanan, memperkuat keselamatan pasien, serta menyediakan data yang akurat untuk evaluasi mutu pelayanan dan pengambilan keputusan klinis.
Manajemen Pemberian Obat yang Aman (Medication Safety) merupakan serangkaian proses yang bertujuan untuk memastikan setiap pasien menerima obat yang tepat, dengan cara yang tepat, pada dosis yang tepat, melalui rute yang tepat, pada waktu yang tepat, serta didokumentasikan secara benar. Penerapan prinsip medication safety merupakan salah satu komponen penting dalam keselamatan pasien untuk mencegah terjadinya medication error yang dapat menimbulkan cedera, memperpanjang masa perawatan, bahkan mengancam keselamatan jiwa pasien.
Manajemen Pemberian Obat yang Aman (Medication Safety) merupakan serangkaian proses yang bertujuan untuk memastikan setiap pasien menerima obat yang tepat, dengan cara yang tepat, pada dosis yang tepat, melalui rute yang tepat, pada waktu yang tepat, serta didokumentasikan secara benar. Penerapan prinsip medication safety merupakan salah satu komponen penting dalam keselamatan pasien untuk mencegah terjadinya medication error yang dapat menimbulkan cedera, memperpanjang masa perawatan, bahkan mengancam keselamatan jiwa pasien.
Manajemen Nutrisi Pasien Rawat Inap merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi pasien sesuai kondisi klinis, mendukung proses penyembuhan, mempercepat pemulihan, mencegah komplikasi, serta meningkatkan luaran klinis. Pelaksanaan manajemen nutrisi memerlukan kolaborasi yang efektif antara dokter, perawat, ahli gizi, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya agar pasien memperoleh terapi nutrisi yang aman, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan individual.
Manajemen Nutrisi Pasien Rawat Inap merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi pasien sesuai kondisi klinis, mendukung proses penyembuhan, mempercepat pemulihan, mencegah komplikasi, serta meningkatkan luaran klinis. Pelaksanaan manajemen nutrisi memerlukan kolaborasi yang efektif antara dokter, perawat, ahli gizi, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya agar pasien memperoleh terapi nutrisi yang aman, tepat, dan sesuai dengan kebutuhan individual.
Materi Budaya Keselamatan (Safety Culture) di Rumah Sakit bertujuan untuk membentuk sikap, pengetahuan, dan kompetensi peserta dalam menerapkan budaya keselamatan sebagai fondasi utama penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang berkualitas, aman, efektif, berpusat pada pasien, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. Materi ini memberikan pemahaman bahwa keselamatan pasien merupakan tanggung jawab seluruh tenaga kesehatan dan harus menjadi bagian dari budaya kerja di setiap unit pelayanan.
Pembelajaran mencakup konsep dasar budaya keselamatan, prinsip-prinsip keselamatan pasien, dimensi budaya keselamatan, nilai-nilai organisasi yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, serta peran kepemimpinan dalam membangun budaya keselamatan. Peserta juga akan mempelajari implementasi enam Sasaran Keselamatan Pasien (SKP), komunikasi efektif antarprofesi, kerja sama tim (teamwork), keselamatan dalam pemberian obat, pencegahan infeksi, identifikasi pasien, pencegahan pasien jatuh, dan penerapan standar pelayanan yang mendukung keselamatan pasien.
Pembelajaran mencakup konsep dasar budaya keselamatan, prinsip-prinsip keselamatan pasien, dimensi budaya keselamatan, nilai-nilai organisasi yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, serta peran kepemimpinan dalam membangun budaya keselamatan. Peserta juga akan mempelajari implementasi enam Sasaran Keselamatan Pasien (SKP), komunikasi efektif antarprofesi, kerja sama tim (teamwork), keselamatan dalam pemberian obat, pencegahan infeksi, identifikasi pasien, pencegahan pasien jatuh, dan penerapan standar pelayanan yang mendukung keselamatan pasien.
Materi Pencegahan dan Penanganan Henti Jantung bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali tanda-tanda perburukan kondisi pasien, melakukan tindakan pencegahan henti jantung, serta memberikan penanganan awal secara cepat dan tepat sesuai pedoman Basic Life Support (BLS) dan kebijakan rumah sakit. Materi meliputi deteksi dini pasien berisiko, aktivasi sistem Code Blue, pelaksanaan Bantuan Hidup Dasar (BHD), penggunaan Automated External Defibrillator (AED) sesuai kewenangan, serta kolaborasi dalam penanganan resusitasi untuk meningkatkan keselamatan dan angka keberhasilan pasien.
Materi Pencegahan dan Penanganan Henti Jantung bertujuan membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dalam mengenali tanda-tanda perburukan kondisi pasien, melakukan tindakan pencegahan henti jantung, serta memberikan penanganan awal secara cepat dan tepat sesuai pedoman Basic Life Support (BLS) dan kebijakan rumah sakit. Materi meliputi deteksi dini pasien berisiko, aktivasi sistem Code Blue, pelaksanaan Bantuan Hidup Dasar (BHD), penggunaan Automated External Defibrillator (AED) sesuai kewenangan, serta kolaborasi dalam penanganan resusitasi untuk meningkatkan keselamatan dan angka keberhasilan pasien.
Materi Manajemen Risiko Klinis dalam Pelayanan Keperawatan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi peserta dalam mengidentifikasi, menganalisis, mengendalikan, serta meminimalkan risiko klinis yang dapat memengaruhi keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan. Materi meliputi konsep dasar manajemen risiko klinis, identifikasi potensi risiko dalam setiap tahapan asuhan keperawatan, penerapan budaya keselamatan pasien (patient safety culture), penggunaan metode analisis risiko, implementasi strategi mitigasi risiko, pelaporan dan pembelajaran dari insiden keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera/KNC, Kejadian Tidak Cedera/KTC, Kejadian Tidak Diharapkan/KTD, dan Sentinel), analisis akar penyebab (Root Cause Analysis/RCA), penyusunan rencana tindak lanjut perbaikan, penerapan manajemen risiko dalam praktik keperawatan berbasis bukti, komunikasi efektif antarprofesi, serta pendokumentasian dan monitoring evaluasi risiko sesuai standar operasional prosedur (SPO). Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi analisis insiden, dan praktik penyusunan rencana mitigasi risiko sehingga peserta mampu menerapkan manajemen risiko klinis secara sistematis, proaktif, dan berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan pasien serta mutu pelayanan keperawatan.
Materi Interpretasi Pemeriksaan Penunjang Dasar bagi Perawat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam memahami, menginterpretasikan, dan memanfaatkan hasil pemeriksaan penunjang dasar sebagai bagian dari pengkajian keperawatan, pemantauan kondisi pasien, serta deteksi dini terhadap perubahan status klinis. Materi meliputi konsep dasar pemeriksaan penunjang, interpretasi hasil pemeriksaan hematologi rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit), kimia darah (glukosa darah, elektrolit, ureum, kreatinin, fungsi hati), analisis gas darah dasar, urinalisis, serta pemeriksaan penunjang sederhana lainnya yang sering digunakan dalam pelayanan klinis. Selain itu, materi membahas korelasi hasil pemeriksaan dengan kondisi klinis pasien, identifikasi nilai kritis (critical values), pelaporan segera kepada dokter sesuai alur komunikasi efektif, pemantauan respons terhadap terapi, serta pendokumentasian hasil interpretasi dalam asuhan keperawatan. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, latihan interpretasi hasil pemeriksaan, dan pembelajaran berbasis kasus (case-based learning) sehingga peserta mampu mengintegrasikan data pemeriksaan penunjang dengan kondisi klinis pasien untuk mendukung pengambilan keputusan keperawatan yang tepat, meningkatkan keselamatan pasien, dan memperkuat kolaborasi interprofesional.
Materi Interpretasi Pemeriksaan Penunjang Dasar bagi Perawat bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam memahami, menginterpretasikan, dan memanfaatkan hasil pemeriksaan penunjang dasar sebagai bagian dari pengkajian keperawatan, pemantauan kondisi pasien, serta deteksi dini terhadap perubahan status klinis. Materi meliputi konsep dasar pemeriksaan penunjang, interpretasi hasil pemeriksaan hematologi rutin (hemoglobin, hematokrit, leukosit, trombosit), kimia darah (glukosa darah, elektrolit, ureum, kreatinin, fungsi hati), analisis gas darah dasar, urinalisis, serta pemeriksaan penunjang sederhana lainnya yang sering digunakan dalam pelayanan klinis. Selain itu, materi membahas korelasi hasil pemeriksaan dengan kondisi klinis pasien, identifikasi nilai kritis (critical values), pelaporan segera kepada dokter sesuai alur komunikasi efektif, pemantauan respons terhadap terapi, serta pendokumentasian hasil interpretasi dalam asuhan keperawatan. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, diskusi kasus, latihan interpretasi hasil pemeriksaan, dan pembelajaran berbasis kasus (case-based learning) sehingga peserta mampu mengintegrasikan data pemeriksaan penunjang dengan kondisi klinis pasien untuk mendukung pengambilan keputusan keperawatan yang tepat, meningkatkan keselamatan pasien, dan memperkuat kolaborasi interprofesional.
Materi Pelaporan dan Analisis Insiden Keselamatan Pasien bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi peserta dalam mengenali, melaporkan, menganalisis, serta menindaklanjuti insiden keselamatan pasien sebagai upaya membangun budaya keselamatan (patient safety culture) dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Materi meliputi konsep dasar keselamatan pasien, klasifikasi insiden keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera/KNC, Kejadian Tidak Cedera/KTC, Kejadian Tidak Diharapkan/KTD, dan Kejadian Sentinel), tata cara pelaporan insiden sesuai kebijakan rumah sakit, prinsip pelaporan yang tidak menyalahkan (no blame culture), teknik analisis insiden menggunakan metode yang sesuai, seperti Root Cause Analysis (RCA) dan Simple Investigation, penyusunan rekomendasi dan rencana perbaikan, implementasi tindakan pencegahan agar insiden tidak terulang, monitoring efektivitas tindak lanjut, serta pendokumentasian dan pelaporan hasil analisis. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi analisis insiden, dan praktik penyusunan rencana perbaikan sehingga peserta mampu berperan aktif dalam sistem pelaporan insiden, melakukan analisis secara sistematis, serta mendukung peningkatan keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan secara berkelanjutan.
Materi Pelaporan dan Analisis Insiden Keselamatan Pasien bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kompetensi peserta dalam mengenali, melaporkan, menganalisis, serta menindaklanjuti insiden keselamatan pasien sebagai upaya membangun budaya keselamatan (patient safety culture) dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Materi meliputi konsep dasar keselamatan pasien, klasifikasi insiden keselamatan pasien (Kejadian Nyaris Cedera/KNC, Kejadian Tidak Cedera/KTC, Kejadian Tidak Diharapkan/KTD, dan Kejadian Sentinel), tata cara pelaporan insiden sesuai kebijakan rumah sakit, prinsip pelaporan yang tidak menyalahkan (no blame culture), teknik analisis insiden menggunakan metode yang sesuai, seperti Root Cause Analysis (RCA) dan Simple Investigation, penyusunan rekomendasi dan rencana perbaikan, implementasi tindakan pencegahan agar insiden tidak terulang, monitoring efektivitas tindak lanjut, serta pendokumentasian dan pelaporan hasil analisis. Pembelajaran dilaksanakan melalui penyampaian teori, studi kasus, diskusi kelompok, simulasi analisis insiden, dan praktik penyusunan rencana perbaikan sehingga peserta mampu berperan aktif dalam sistem pelaporan insiden, melakukan analisis secara sistematis, serta mendukung peningkatan keselamatan pasien dan mutu pelayanan keperawatan secara berkelanjutan.
Jl. Dr. Soeradji Tirtonegoro No.1, Dusun 1, Tegalyoso, Kec. Klaten Sel., Kabupaten Klaten, Jawa Tengah 57413

Kab. Klaten

Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten
Teknik Listrik, Teknik Elektro

Unit Bisnis Yogyakarta
Farmasi

Unit Bisnis Yogyakarta
Farmasi

Unit Bisnis Yogyakarta
Farmasi

Becreative Media Talenta
Hubungan Masyarakat dan Komunikasi Digital, Kearsipan Digital, Desain Komunikasi Visual, Komunikasi Digital dan Media, Hubungan Masyarakat Dan Komunikasi Digital, Bisnis Digital

PT. Prospecta Garmindo
Teknik Industri