Pengumuman! Cek Eligibilitas Magang Nasional Batch 3 Tahun 2026 Sudah Dibuka. Segera cek status kelayakan Anda melalui akun Maganghub.

PT Eco Smart Garment Indonesia
1. Melakukan pengecekan kualitas jahitan pada garment
2. Melakukan pendataan hasil pengecekan
3. Membuat laporan hasil pengecekan
Mempelajari 3 dokumen utama QC Sewing: 1. Spec Sheet: berisi detail ukuran, toleransi, jenis stitch, SPI. 2. Approved Sample: sebagai master untuk visual, handfeel, konstruksi. 3. Tech Pack: berisi komentar buyer, titik kritis, area rawan defect. Memahami klasifikasi defect: Critical, Major, Minor sesuai standar AQL. Aturan: Tidak ada produksi yang berjalan tanpa 3 dokumen ini tersedia di line.
Memahami tujuan Inline: mendeteksi defect sedini mungkin selama proses jahit berlangsung. Prosedur: 1. Frekuensi: Setiap 1 jam atau setiap 50-100 pcs output, ambil 7 pcs acak dari tiap operator. 2. Metode cek: 100% visual + ukur 2 POM kritis dari 7 pcs tersebut. 3. Toleransi: Jika ditemukan ≥2 pcs defect major dalam 7 pcs, maka line status Waspada. 4. Tindak lanjut: Defect langsung dikembalikan ke operator untuk repair saat itu juga.
Memahami peran Endline sebagai gerbang terakhir di departemen Sewing. Prosedur: 1. Seluruh output jahit dari line wajib diperiksa 100% oleh QC Endline sebelum dikirim ke Washing/Finishing. 2. Metode cek: Visual seluruh bagian garmen, ukur 4-6 POM kritis sesuai Spec Sheet. 3. Kriteria Lolos: Zero defect critical, zero defect major, minor defect maksimal 1 titik yang tidak di area penting. 4. Alur: Garmen Pass diberi stiker QC Pass + paraf. Garmen Reject dikembalikan ke line untuk repair.
Memahami fungsi NCR sebagai dokumen resmi untuk eskalasi defect kritis atau defect berulang yang tidak selesai di level line. Struktur NCR: 1. Informasi Umum: Tanggal, Line, Style, PO, Qty Terindikasi. 2. Uraian Ketidaksesuaian: Jenis defect, standar vs aktual, lampirkan foto bukti. 3. Klasifikasi: Critical / Major. 4. Tindakan Penahanan Awal: Stop operasi, label "Hold", pisahkan barang. 5. Kolom Persetujuan: QC, SPV Sewing, Manager Produksi. NCR wajib dibuat jika ditemukan defect critical atau defect major ≥5% dalam 1 jam produksi.
Memahami perbedaan Inline Inspection vs Audit Proses. Audit Proses bertujuan memastikan sistem berjalan, bukan hanya mencari defect garmen. Area audit: 1. Ketersediaan Dokumen: Spec Sheet, Sample, Tech Pack di line. 2. Kinerja QC: Apakah Inline 7 pcs & Traffic Light berjalan tiap jam. 3. Kepatuhan Operator: Ikut metode jahit standar atau tidak. 4. Kondisi Mesin: Jarum, tensi benang, kebersihan. 5. Ketertelusuran: Kartu bundle terisi lengkap. Hasil audit berupa skor dan temuan Major/Minor Observation.
Sesi review semua materi Bulan 1-5. Bedah ulang: 1. Alur kerja dari Set-Up Approval → Inline 7 pcs → Traffic Light → Endline 100% → AQL → NCR → CAP → FRI. 2. Dokumen wajib QC: Spec Sheet, Form Set-Up, Form Inline, Form Endline, NCR, Logbook Kalibrasi, QC Guideline. 3. Rumus penting: DHU, FTT, AQL. 4. Diskusi kasus: "Jika kamu temukan 4 pcs defect critical dalam 7 pcs Inline, apa langkahmu dalam 10 menit pertama?" Target: Peserta paham keterkaitan semua proses dari hulu ke hilir.
Mempelajari 15 defect jahit utama: 1. Skip Stitch: loncat benang. 2. Broken Stitch: benang putus. 3. Pleated/Puckering: kerut pada jahitan. 4. Open Seam: jahitan terbuka. 5. Run Off Stitch: jahitan keluar jalur. 6. Ukuran Tidak Sesuai: di luar toleransi +/- 0.5 cm. 7. Salah Posisi Komponen: label, saku melenceng >0.3 cm. 8. Needle Hole: bekas jarum. Disertai foto defect, lokasi umum terjadi, dan dampak ke buyer.
Praktek menggunakan 4 alat ukur: 1. Meteran baju: untuk ukur Point of Measurement POM seperti body length, chest. 2. Penggaris besi: untuk ukur jarak label, placket. 3. SPI Gauge: menghitung Stitch Per Inch. 4. Lampu Inspeksi: cek shade, cacat kain. Tugas: Ambil 1 sample garmen, ukur 5 POM, catat hasil dan bandingkan dengan Spec Sheet. Tentukan Pass atau Fail berdasarkan toleransi. Target: Akurasi pengukuran 100%.
Alur Set-Up Approval: 1. Operator jahit 3 pcs pertama tiap operasi. 2. QC cek 100%: ukuran, SPI, tensi benang, posisi, visual vs sample. 3. Jika OK: QC tanda tangan Form Set-Up + tempel stiker "Approved" di mesin. 4. Jika NOK: Stop, panggil mekanik & SPV, tidak boleh lanjut massal. Form wajib diisi: Style, Color, Operasi, Nama Operator, Jam, Hasil Cek, Status. Aturan: Zero Mass Production tanpa Set-Up Approved.
Turun ke 1 line jahit. Tugas: 1. Minta operator buat 3 pcs pertama operasi "pasang kerah". 2. Cek 3 pcs tersebut: ukur lebar kerah, cek SPI 11-13, cek jahitan lari atau tidak. 3. Bandingkan dengan approved sample. 4. Isi Form Set-Up Approval. 5. Jika ada defect, instruksikan perbaikan dan cek ulang sampai Pass. Target: 1 hari bisa handle Set-Up untuk 3 operasi berbeda.
Memahami rumus dasar QC Sewing: 1. DHU = Defect per Hundred Units = Total Defect / Total Qty Diperiksa x 100. 2. FTT = First Time Through = Unit tanpa defect sekali jalan / Total Unit x 100%. 3. Belajar isi Form Laporan Harian QC: Tanggal, Line, Style, Qty Check, Qty Defect, Nama Defect, Nama Operator. Data ini dasar untuk Traffic Light System di Bulan 2.
Sistem Traffic Light sebagai indikator visual kualitas per operator. Aturan: 1. Lampu Hijau: 0-1 defect dari 7 pcs = Line aman, lanjut produksi. 2. Lampu Kuning: 2 defect dari 7 pcs = Peringatan, SPV & Mekanik harus datang cek. 3. Lampu Merah: ≥3 defect dari 7 pcs = Stop line operasi tersebut, analisa root cause, baru boleh jalan setelah perbaikan. Setiap pergantian lampu wajib dicatat di papan Traffic Light beserta jam dan jenis defect.
Ditugaskan pada 1 line jahit selama 1 hari kerja. Tugas: 1. Setiap jam, ambil 7 pcs dari 3 operator berbeda. 2. Lakukan pemeriksaan sesuai Materi 1. 3. Update Papan Traffic Light per operator: tempel kartu Hijau/Kuning/Merah. 4. Isi Form Inline: Jam, Operator, Operasi, Qty Check, Qty Defect, Jenis Defect. 5. Jika lampu Kuning/Merah, panggil SPV Sewing dan catat tindakan perbaikan di form. Target: Disiplin cek tiap jam, data akurat.
Mengolah data dari Form Inline menjadi informasi. Langkah: 1. Hitung DHU per jam: Total Defect Jam Tersebut / Total Qty Diperiksa Jam Tersebut x 100. 2. Buat grafik trend DHU dari jam 08.00-17.00 untuk melihat jam rawan. 3. Rekap seluruh jenis defect, urutkan dari frekuensi tertinggi untuk dapat Top 3 Defect hari itu. 4. Analisa: Top defect "skip stitch" paling banyak di operasi "pasang lengan" jam 11.00-12.00. Data ini dasar untuk CAP.
Menggunakan data Inline 1 hari penuh dari Materi 3. Tugas: 1. Input data ke Format Laporan Harian QC Sewing Excel. 2. Hitung DHU Line, FTT Line, dan Top 3 Defect. 3. Buat kesimpulan: "DHU line 8%, Top defect Skip Stitch 40% dari total defect". 4. Sampaikan laporan secara lisan ke SPV Sewing jam 16.30, jelaskan masalah dan usulan perbaikan awal. Target: Laporan selesai sebelum jam pulang, data valid.
Memahami peran QC sebagai komunikator. Alur eskalasi: 1. Defect terkait handling: training langsung operator di tempat oleh QC. 2. Defect terkait mesin: QC panggil mekanik, jelaskan defect, tunjukkan bukti di garmen. 3. Defect berulang: QC wajib buat NCR awal dan minta tanda tangan SPV Sewing + Mekanik. Prinsip: QC tidak boleh memperbaiki mesin, tetapi wajib memastikan perbaikan dilakukan dan verifikasi hasilnya di 7 pcs berikutnya.
Memahami konsep Acceptable Quality Level AQL Level 2.5 untuk Major, 4.0 untuk Minor. Langkah: 1. Menentukan ukuran lot: misal 1 bundle = 30 pcs. 2. Menentukan sample size berdasarkan tabel AQL: untuk lot 151-280 pcs, sample = 32 pcs. 3. Menentukan Acceptance Number: jika defect major ditemukan >2 dari 32 pcs, lot tersebut Reject. Fungsi: QC Endline melakukan audit AQL pada bundle yang sudah di-pass QC Endline sebagai verifikasi sebelum kirim. Ini simulasi audit QC Final/Buyer.
Ditugaskan di meja Endline selama 1 hari. Tugas: 1. Terima bundle dari line jahit, cek kelengkapan kartu bundle. 2. Periksa 100% isi bundle: 1 bundle 30 pcs. Cek visual, ukur POM, cek jahitan, cek kotor. 3. Pisahkan garmen Pass, Reject Minor untuk cleaning, dan Reject Major untuk repair. 4. Isi Form Endline Inspection: Style, Color, Size, Qty Check, Qty Pass, Qty Repair, Jenis Defect. Target: 1 hari mampu cek minimal 300 pcs dengan akurasi 100% deteksi defect major.
Ambil 5 bundle yang sudah di-pass oleh QC Endline lain. Tugas: 1. Tentukan sample size berdasarkan total pcs 5 bundle menggunakan tabel AQL. 2. Ambil sample acak, lakukan inspeksi seperti audit buyer. 3. Jika hasil audit Pass AQL: tempel Stiker "QC Audited OK" pada bundle. 4. Jika Fail AQL: tahan seluruh 5 bundle, kembalikan untuk di-inspect 100% ulang oleh line. 5. Catat hasil audit di Form Audit Internal. Target: Memahami risiko jika Endline tidak teliti.
Menggunakan data Top 3 Defect dari Laporan Harian Bulan 2. Metode analisa: 1. Gunakan 5 Why: Mengapa terjadi skip stitch? Karena benang putus. Mengapa benang putus? dst. 2. Gunakan Fishbone: Analisa dari faktor Man, Machine, Method, Material. 3. Susun CAP: Berisi Masalah, Root Cause, Tindakan Perbaikan, PIC, Due Date. Contoh CAP: Masalah Skip Stitch, Root Cause Jarum tumpul, Tindakan: Ganti jarum tiap 4 jam, PIC: Mekanik, Due Date: Besok.
Berdasarkan CAP yang dibuat di Materi 5. Tugas: 1. Presentasikan CAP di depan SPV Sewing, Mekanik, dan Leader Line. 2. Setelah tindakan dijalankan, QC wajib verifikasi: cek Inline 7 pcs di operasi yang bermasalah selama 2 hari berturut. 3. Jika defect yang sama tidak muncul lagi, CAP status "Closed". Jika masih muncul, CAP status "Open" dan analisa ulang. Target: Mampu menutup 1 kasus defect berulang melalui CAP.
Simulasi kasus: Ditemukan 20 pcs "jahitan rantai lepas" pada operasi overdeck di line B. Tugas: 1. Segera instruksikan operator stop dan pasang label "Hold" pada mesin. 2. Buat NCR lengkap dengan data dan foto. 3. Koordinasi dengan SPV & Mekanik untuk analisa dan perbaikan. 4. Pantau proses sortir 100% pada output sebelumnya. 5. Lakukan verifikasi ulang setelah perbaikan. 6. Jika dalam 1x24 jam defect tidak muncul lagi, NCR ditutup dengan tanda tangan Manager. Target: Satu siklus NCR selesai dalam 2 hari kerja.
Menjamin keakuratan hasil pengukuran untuk menghindari kesalahan keputusan Pass/Fail. Prosedur: 1. Meteran baju & penggaris besi: Wajib diverifikasi setiap awal bulan menggunakan "Master Ruler" bersertifikat. Selisih >1 mm = Tidak Lolos. 2. SPI Gauge: Diverifikasi dengan cara hitung manual pada sampel standar. 3. Seluruh alat yang lolos diberi stiker "Terverifikasi" berisi tanggal dan paraf QC Leader. 4. Alat yang tidak lolos diberi label "Rusak" dan ditarik dari line. Hasil dicatat di Logbook Kalibrasi Alat Ukur.
Tugas lapangan: 1. Kumpulkan seluruh meteran baju dan penggaris dari QC Inline, QC Endline, dan Leader di 3 line berbeda. 2. Lakukan verifikasi satu per satu terhadap Master Ruler 100 cm. 3. Catat nomor seri alat, hasil ukur, dan status Lolos/Tidak Lolos di Logbook. 4. Tarik alat yang tidak lolos dan ganti dengan yang baru. 5. Tempel stiker kalibrasi terbaru pada alat yang lolos. Target: 100% alat ukur aktif di area sewing memiliki status terverifikasi bulan berjalan.
Tujuan: Menciptakan acuan pemeriksaan yang seragam untuk seluruh QC. Langkah penyusunan: 1. Tentukan operasi kritis, contoh: "Pasang Manset". 2. Identifikasi Titik Kritis Pemeriksaan: Lebar manset, kesimetrisan, SPI, kerut, kebersihan. 3. Tetapkan Metode & Alat: Meteran untuk dimensi, visual untuk jahitan. 4. Tetapkan Toleransi: Sesuai Spec Sheet, misal lebar manset +/- 0.3 cm. 5. Sertakan Foto Referensi: "Kondisi OK" dan "Kondisi NOT OK". Dokumen final disahkan oleh Manager dan didistribusikan ke setiap line.
Menggunakan QC Guideline "Pasang Manset" dari Materi 5. Tugas: 1. Lakukan sosialisasi singkat ke seluruh QC Inline yang bertanggung jawab pada operasi manset. 2. Laksanakan audit proses: Dampingi 2 QC Inline selama masing-masing 2 jam, amati kesesuaian metode pemeriksaan dengan guideline. 3. Isi Checklist Audit Guideline. 4. Jika ditemukan ketidaksesuaian, berikan koreksi dan training langsung di line. 5. Buat laporan hasil audit. Target: Seluruh QC Inline pada operasi tersebut menerapkan standar yang sama.
Tugas: Lakukan audit proses selama 1 hari di 2 line dengan style berbeda. Langkah: 1. Gunakan Checklist Audit Internal standar pabrik. 2. Wawancara singkat dengan 2 operator & 1 QC Inline per line. 3. Cek kelengkapan dokumen, amati 1 siklus Inline 7 pcs, cek kondisi 3 mesin. 4. Dokumentasikan temuan dengan foto. 5. Buat Laporan Audit: Skor akhir, 3 temuan utama, rekomendasi perbaikan. Target: 1 hari selesai audit 2 line + laporan.
Memahami bahwa defect Sewing bisa berasal dari departemen sebelum/sesudahnya. Alur koordinasi: 1. Ke Departemen Cutting: Jika ditemukan masalah "part tidak simetris", "notch hilang", "shading". QC Sewing wajib buat Feed Back Form ke QC Cutting dengan bukti. 2. Ke Departemen Finishing: Pastikan komunikasi tentang "lokasi kotor minyak", "titik yang rawan saat pressing". 3. Meeting Rutin: QC Sewing hadir di meeting harian untuk sampaikan Top 3 Defect agar departemen lain antisipasi. Prinsip: Masalah diselesaikan di hulu, bukan di hilir.
Studi kasus: Dalam 3 hari terakhir, defect "ukuran panel depan selisih 1 cm" selalu muncul. Hasil analisa: Salah potong dari Cutting. Tugas: 1. Kumpulkan data: Qty defect, foto, no bundle, no cutting ticket. 2. Buat Feed Back Form resmi ke Departemen Cutting. 3. Presentasikan temuan di simulasi meeting pagi bersama SPV Sewing, SPV Cutting, Manager. 4. Sepakati tindakan: Cutting hold, cek pola, potong ulang. 5. Pantau hasil: Pastikan bundle baru dari Cutting sudah OK saat masuk Sewing. Target: Mampu eskalasi masalah ke departemen lain dengan data.
FRI adalah inspeksi terakhir sebelum barang dikirim ke buyer, dilakukan oleh QC Final/External. QC Sewing wajib paham agar barang tidak reject di tahap ini. Materi: 1. Syarat FRI: Qty sudah 100% selesai packing, area bersih, cahaya cukup 1000 lux. 2. Metode: Berdasarkan AQL Level II, Normal Level. Contoh: Qty 1200 pcs, sample 80 pcs. 3. Kriteria Pass: Major defect ≤5, Minor defect ≤7 untuk AQL 2.5/4.0. 4. Jenis Pengecekan: Ukuran, visual, fungsi, packaging, scan metal detector. 5. Tugas QC Sewing: Memastikan defect dari Sewing sudah 0% sebelum barang diserahkan ke Finishing/Packing.
Ambil 1 PO yang sudah selesai packing dari gudang. Tugas: 1. Hitung total qty karton, tentukan jumlah karton sample & pcs sample sesuai tabel AQL. 2. Ambil sample acak dari beberapa karton berbeda. 3. Lakukan inspeksi FRI: Cek ukuran 5 POM, cek visual, cek workmanship, cek label & packaging. 4. Isi Form FRI lengkap. 5. Buat keputusan: Pass / Hold / Reject. Jika Reject karena defect Sewing, analisa kegagalan QC Endline. Target: Mampu menjalankan FRI seperti QC Final buyer.
Membangun skill komunikasi dan kepemimpinan QC di line. Materi: 1. Peran QC: Bukan "polisi", tapi "partner" untuk operator capai kualitas. 2. Teknik Coaching 1-on-1: Cara menegur defect tanpa membuat operator down, gunakan metode "Tunjukkan, Jelaskan, Praktikkan, Cek Lagi". 3. Problem Solving Cepat: Bedakan defect karena Mesin vs Man vs Method saat di line. 4. Cara menyampaikan laporan ke SPV agar didengar: Gunakan data, bukan opini. Contoh: "DHU jam 10 naik jadi 12% karena Skip Stitch di 3 operator", bukan "Jahitannya jelek".
Peserta ditugaskan handle 1 line jahit full 1 hari tanpa pendampingan. Penilaian: 1. Pagi: Melakukan Set-Up Approval untuk 3 operasi. 2. Siang: Menjalankan Inline 7 pcs tiap jam, update Traffic Light, isi form. 3. Sore: Melakukan Endline 100% untuk 1 bundle, buat laporan harian. 4. Insiden: Penguji akan sengaja menyelipkan 3 defect major ke dalam bundle Endline. Peserta harus bisa menemukan semua. Kriteria Lulus: Zero defect major lolos, dokumen lengkap, komunikasi ke SPV jelas.
Diberikan data mentah 1 minggu dari 1 line: Form Inline, Form Endline, 2 NCR. Tugas: 1. Olah data: Hitung DHU harian, FTT, buat grafik trend, tentukan Top 3 Defect. 2. Analisa Root Cause: Gunakan 5 Why + Fishbone untuk defect peringkat 1. 3. Susun CAP lengkap dan NCR jika diperlukan. 4. Presentasi 15 menit di depan Manager & SPV: Paparkan masalah, analisa, dan rencana aksi. Penilaian: Ketepatan analisa, logika CAP, dan kemampuan presentasi.
Menekankan bahwa QC adalah gerbang kualitas perusahaan. Materi: 1. Larangan: Menerima suap/gratifikasi dari operator/SPV, memanipulasi data DHU, meloloskan barang defect karena "kasihan". 2. Prinsip: Data harus jujur, keputusan berdasarkan standar bukan perasaan. 3. Dampak: 1 defect major lolos ke buyer bisa menyebabkan klaim, cancel order, dan merusak nama pabrik. 4. Tanda Tangan QC = Tanggung Jawab. Setiap paraf di form berarti "Saya sudah cek dan jamin ini sesuai standar".
Sesi 1-on-1 dengan QC Leader/Manager. Agenda: 1. Pembacaan hasil Uji Kompetensi Teknik & Analisa. 2. Feedback kekuatan dan area pengembangan peserta. Contoh: "Kuat di deteksi defect, perlu tingkatkan kecepatan analisa data". 3. Penyusunan IDP: Target 3 bulan ke depan. Misal: "Bulan depan harus bisa tutup 2 CAP mandiri", "Belajar standar AQL Level I". 4. Penyerahan Sertifikat Kelulusan Internal QC Sewing. Target: Peserta jelas statusnya dan tau langkah selanjutnya.
JMPR+P98, Jl. Raya Klego-Simo, Blumbang Kidul, Blumbang, Kec. Klego, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah 57385

Kab. Boyolali
Merupakan salah satu anak perusahaan dari PT. PAN Brothers Tbk & Group yang merupakan perusahaan manufaktur di bidang garment terbesar di Indonesia. PT ESGI Klego berdiri sejak tahun 2014 dan berfokus pada pembuatan pakaian jadi seperti celana kasual, rok, jaket dll. Dalam proses produksi kami didukung oleh berbagai tenaga ahli dan terampil sebanyak kurang lebih 3800 karyawan. Mengusung motto kami "Clothing the word with Indonesia Heart."

Rsu Islam Boyolali
Keperawatan Anestesiologi

Rsu Islam Boyolali
Gizi dan Dietetika, Gizi

Unit Bisnis Surakarta
Farmasi

Rs Pku Aisyiyah Boyolali
Terapi Wicara

PT Eco Smart Garment Indonesia
Teknik Sipil