Pengumuman! Cek Eligibilitas Magang Nasional Batch 3 Tahun 2026 Sudah Dibuka. Segera cek status kelayakan Anda melalui akun Maganghub.

Graha Proteksi Servis
Peserta magang Training & Development Intern bertugas mendukung perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program pelatihan serta pengembangan kompetensi karyawan. Tanggung jawab meliputi pendataan kebutuhan pelatihan, penyusunan jadwal kegiatan, koordinasi dengan peserta dan fasilitator, persiapan materi, serta pengelolaan administrasi pelatihan. Peserta membantu memperbarui data keikutsertaan, mengelola dokumentasi pembelajaran, mengumpulkan umpan balik, dan menyusun laporan evaluasi kegiatan. Peserta juga dapat mendukung pengelolaan platform pembelajaran digital dan penyusunan materi pengembangan kompetensi sesuai arahan tim. Seluruh aktivitas bertujuan meningkatkan keteraturan pelaksanaan pelatihan dan mendukung pengembangan sumber daya manusia perusahaan.
Pada bulan pertama, peserta diperkenalkan pada fungsi dan tanggung jawab departemen Training & Development sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya manusia perusahaan. Peserta mempelajari hubungan antara pelatihan, pengembangan kompetensi, kinerja individu, produktivitas tim, dan pencapaian tujuan organisasi. Pembelajaran mencakup pemahaman mengenai perbedaan antara pelatihan (training), pengembangan karyawan (employee development), pembelajaran di tempat kerja (workplace learning), serta pengembangan karier. Peserta juga diperkenalkan pada struktur departemen HR, hubungan kerja antara Training & Development dengan HR Operations, Recruitment, Performance Management, dan unit bisnis lainnya. Peserta mempelajari alur umum penyelenggaraan pelatihan, mulai dari identifikasi kebutuhan, perencanaan program, penentuan peserta, penyusunan materi, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi hasil pembelajaran. Selain itu, peserta diperkenalkan pada berbagai metode pembelajaran yang digunakan perusahaan, seperti pelatihan tatap muka, kelas virtual, pembelajaran mandiri, mentoring, coaching, dan on-the-job training. Materi diberikan melalui observasi kegiatan internal, diskusi bersama supervisor, dan studi kasus untuk membantu peserta memahami alasan pemilihan metode pembelajaran berdasarkan tujuan program dan karakteristik peserta.
Pada bulan kedua, peserta mempelajari proses identifikasi kebutuhan pelatihan atau Training Needs Analysis (TNA) sebagai dasar dalam merancang program pengembangan karyawan yang sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Peserta memahami bahwa pelatihan perlu dirancang berdasarkan kesenjangan antara kompetensi yang dimiliki karyawan dan kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankan pekerjaan secara efektif. Pembelajaran mencakup hubungan antara tujuan bisnis, kebutuhan unit kerja, deskripsi pekerjaan, standar kompetensi, hasil evaluasi kinerja, serta kebutuhan pengembangan individu. Peserta diperkenalkan pada berbagai metode pengumpulan informasi kebutuhan pelatihan, seperti wawancara dengan atasan, survei karyawan, diskusi kelompok, observasi pekerjaan, evaluasi kinerja, dan peninjauan standar kompetensi jabatan. Peserta berlatih menyusun pertanyaan survei, mengelompokkan kebutuhan berdasarkan keterampilan teknis dan nonteknis, serta merangkum hasil pengumpulan data. Dalam proses ini, peserta belajar membedakan kebutuhan pelatihan yang dapat diselesaikan melalui pembelajaran dengan masalah kinerja yang mungkin membutuhkan perbaikan proses, kejelasan tanggung jawab, dukungan atasan, atau penyediaan fasilitas kerja.
Pada bulan ketiga, peserta mempelajari proses merancang program pembelajaran berdasarkan kebutuhan kompetensi yang telah diidentifikasi. Peserta memahami bagaimana tujuan pelatihan ditetapkan, materi disusun secara bertahap, metode pembelajaran dipilih, serta hasil belajar dirumuskan agar dapat dievaluasi. Pembelajaran mencakup pengenalan prinsip instructional design, penyusunan tujuan pembelajaran yang terukur, pengorganisasian materi dari tingkat dasar hingga lanjutan, serta penyesuaian metode belajar terhadap karakteristik peserta dan kebutuhan pekerjaan. Peserta berlatih menyusun rancangan kurikulum pelatihan yang memuat judul program, deskripsi, sasaran peserta, tujuan pembelajaran, topik materi, durasi, metode penyampaian, aktivitas peserta, dan indikator keberhasilan. Peserta juga mempelajari cara mengembangkan bahan pembelajaran, seperti presentasi, modul, panduan kerja, lembar aktivitas, studi kasus, kuis, dan materi pendukung lainnya. Dalam proses pengembangan konten, peserta diarahkan untuk menggunakan bahasa yang jelas, struktur materi yang logis, contoh yang relevan, serta tampilan yang konsisten dengan standar komunikasi perusahaan.
Pada bulan keempat, peserta berfokus pada pelaksanaan dan koordinasi program pelatihan. Peserta mempelajari bagaimana rencana pelatihan diterjemahkan menjadi kegiatan yang dapat diikuti peserta sesuai jadwal, sasaran pembelajaran, dan standar penyelenggaraan perusahaan. Materi meliputi penyusunan kalender pelatihan, koordinasi dengan fasilitator, konfirmasi peserta, persiapan ruang atau platform virtual, distribusi materi, pengelolaan daftar kehadiran, serta pencatatan kebutuhan teknis dan logistik. Peserta juga memahami pentingnya komunikasi yang tepat waktu agar peserta, fasilitator, dan pihak terkait memperoleh informasi yang konsisten. Dalam kegiatan praktik, peserta membantu persiapan dan pelaksanaan sesi pelatihan, termasuk memastikan materi tersedia, perlengkapan berfungsi, tautan kelas virtual dapat diakses, serta formulir evaluasi telah disiapkan. Peserta belajar mendokumentasikan jalannya kegiatan dan mencatat kendala yang muncul, seperti perubahan jadwal, ketidakhadiran peserta, gangguan teknis, atau kebutuhan tambahan dari fasilitator. Peserta juga mengembangkan keterampilan komunikasi, koordinasi, dan pemecahan masalah dasar dalam penyelenggaraan pembelajaran.
Pada bulan kelima, peserta mempelajari cara mengevaluasi efektivitas program pelatihan untuk mengetahui apakah kegiatan pembelajaran telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Peserta memahami bahwa keberhasilan pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta yang hadir atau kepuasan terhadap fasilitator, tetapi juga dari peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan penerapan hasil belajar dalam pekerjaan. Materi mencakup penyusunan instrumen evaluasi, pengumpulan umpan balik peserta, pengukuran pemahaman sebelum dan sesudah pelatihan, serta pemantauan penyelesaian program pembelajaran. Peserta diperkenalkan pada model evaluasi pelatihan, termasuk pendekatan empat tingkat Kirkpatrick yang mencakup reaksi peserta, pembelajaran, perubahan perilaku, dan hasil organisasi. Peserta mempelajari bagaimana memilih metode pengukuran yang sesuai dengan tujuan pelatihan dan ketersediaan data. Sebagai contoh, tingkat reaksi dapat dievaluasi melalui survei kepuasan, tingkat pembelajaran melalui kuis atau tes, sedangkan penerapan keterampilan di tempat kerja dapat dipantau melalui umpan balik atasan atau observasi setelah pelatihan. Peserta juga memahami bahwa perubahan kinerja tidak selalu disebabkan oleh pelatihan saja sehingga interpretasi hasil perlu mempertimbangkan faktor lain yang relevan.
Pada bulan keenam, peserta mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama lima bulan sebelumnya melalui penyusunan strategi pembelajaran sederhana, perbaikan program pelatihan, dan pelaksanaan proyek akhir. Peserta mempelajari bagaimana hasil analisis kebutuhan, rancangan kurikulum, pelaksanaan pelatihan, serta evaluasi pembelajaran dapat digunakan sebagai dasar untuk meningkatkan kualitas program pengembangan karyawan. Materi mencakup penyusunan prioritas pembelajaran, penentuan sasaran peserta, pemilihan metode pembelajaran, penetapan indikator keberhasilan, serta pengelolaan sumber daya yang diperlukan untuk menjalankan program. Peserta kemudian melakukan peninjauan terhadap salah satu program pembelajaran atau proses administrasi training yang telah dipelajari selama magang. Dengan arahan supervisor, peserta mengidentifikasi kendala dan peluang peningkatan, seperti materi yang belum sesuai dengan kebutuhan peserta, tingkat penyelesaian modul yang rendah, administrasi pelatihan yang belum konsisten, atau belum optimalnya penggunaan hasil evaluasi. Analisis dilakukan berdasarkan data dan informasi yang diizinkan, dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta, tujuan organisasi, serta keterbatasan waktu dan sumber daya.
Jl. Pemuda No.60-70, Embong Kaliasin, Kec. Genteng, Surabaya, Jawa Timur 60271

Kab. Jember
PT Graha Proteksi Servis merupakan perusahaan nasional yang berfokus pada pengembangan solusi keamanan terintegrasi (Integrated Security Solutions), mencakup penyediaan jasa keamanan swasta, sistem pengamanan, serta pendidikan dan pelatihan sumber daya manusia di bidang keamanan. Didirikan pada tahun 2021 dan berkedudukan di Kabupaten Jember, Jawa Timur, perusahaan ini dibangun dengan visi menjadi mitra strategis yang profesional, inovatif, dan terpercaya dalam mendukung kebutuhan perlindungan aset, operasional bisnis, serta pengelolaan risiko keamanan di berbagai sektor industri. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan kompetensi personel, pemanfaatan teknologi, dan standar operasional yang terukur, PT Graha Proteksi Servis diarahkan untuk mengembangkan model bisnis keamanan yang adaptif, efisien, dan berkelanjutan. Dengan peluang pengembangan layanan bagi sektor korporasi, komersial, industri, dan institusi, perusahaan berkomitmen membangun ekosistem layanan keamanan yang memiliki daya saing, potensi pertumbuhan jangka panjang, serta kemampuan menciptakan nilai tambah bagi pelanggan, mitra strategis, dan investor.

PT. Menara Bumi Sejahtera (Fairfield By Marriott Surabaya)
Manajemen Perhotelan dan Pariwisata, Administrasi Bisnis

Rumah Sakit Umum Daerah Dokter Mohamad Soewandhie
Teknokimia Nuklir, Fisika, Teknik Nuklir

Puskesmas Bulak Banteng
Kesehatan Gigi dan Mulut, Keperawatan Gigi

Puskesmas Balas Klumprik
Kesehatan Gigi dan Mulut

Puskesmas Tanjungsari
Psikologi

Ramasari Surya Persada
Pendidikan Bahasa Mandarin, Bahasa Mandarin, Bahasa Mandarin untuk Komunikasi Bisnis dan Profesional